Langsung ke konten utama

SATIRE 1.7 "MENABUR GARAM DIATAS LUKA"

Surakarta 12 November 2025.

Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan  interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa  bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

    Sepertiga badanku tersungkur menghantam kasarnya aspal dan baja pembatas jalan, badan yang tegap tinggi kini terbujur kaku bagai ikan besar hasil tangkapan para nelayan. Ketika tak kuasa kantung mata menahan gejolak yang tersibak di setiap sudut dan gores luka dalam sekujur tubuh ini, berharap ada orang yang mendengar dan bercengkerama sambil membisikan kata penenang bak nyanyian pengantar tidur. Entah sudah malam ke berapa aku melemparkan keniscayaan pada sang maha kuasa demi hati yang semakin lapang dan terbuka. Masih senantiasa kurindukan, ketika ada bahu gagah yang menopang, ada tangan halus yang menuntun dan ada kening yang menempel seakan menjadi media bertukar cerita dalam kesunyian dalam sebuah penantian hidup yang panjang. Tinggal aku seorang... aku sebagai diriku, aku cerminan sifat dan watak diriku, aku sebagai simbol yang menentukan kiblat perjalananku, aku sebagai sebuah dosa yang mengharapkan pengampunan atau aku sebagai sebuah kekejaman akan kebengisan jiwa dan hati nurani.“Dan di antara rasa nyeri itu, aku justru menemukan diriku yang paling jujur.”

    Memori manusia tak kuasa atas kesakitan, fisik mereka lemah atas ketidakadilan, raga mereka bimbang mencari jalan kebajikan, mulut mereka kerap mengumpat kata-kata kotor dan kemunafikan atau hati yang kerap pilu dan merasakan sesak yang lama bertahan. Kesejahteraan adalah anugerah namun apakah kesedihan bukanlah pemberian yang indah? kerap kita mencecar pahit getir yang telah dirasakan namun kiranya enggan untuk berbenah dan mencari suatu kaidah, mata mereka terlalu terpaku terhadap kenyamanan dan pembenaran sedangkan batin mereka rasanya telah copot dan ditelantarkan.“Sebab tanpa derita, kebajikan hanyalah konsep tanpa darah.”

    Kehidupan memiliki caranya sendiri dalam menimbang, menyusun dan memberi suratan takdir bagi para pencari maknanya. Permusuhan tak perlu dilakukan bagi sesuatu yang tak mesti harus dilawan, setetes minyak tak akan menyatu dengan jernihnya air, seekor kumbang tak akan merebut makanan para semut dan rayap atau kupu-kupu yang dalam setiap kesempatan membantu bunga memperoleh nektar yang diperlukan. Petuah alam memiliki cara sendiri dalam mengabadikan sebuah rencana akan kesuburan, kematian, penolakan, penerimaan, kebanggaan atau sebuah penyesalan. Seolah siklus ini selalu berjalan dan menempuh ribuan waktu dalam kecepatan cahaya enggan untuk peduli seberapa besar manusia telah merusaknya. Yah kiranya sebegitu dahsyat sistematika yang terdapat dalam sebuah penciptaan apalagi sang penciptanya sendiri yang mempunyai kuasa mutlak dalam konsep dan eksistensinya.

    Kulit yang akan melepuh ketika terkena panasnya api, badan yang mesti menggigil ketika merasa kedinginan, hati yang risau ketika tak mendapat kabar dari sosok tersayang, pedih yang terasa akibat goresan dan sayatan pisau ke tangan, darah yang bertaburan dan terasa getir seolah umpatan bagi kehidupan, mulut manis yang sering mengumbar janji disela-sela kata bajingan dan beberapa jenis hewan, otak yang kerap menyembunyikan niat dan nafsu terpendam hingga jiwa yang berselisih antara dendam dan sebuah pengampunan. Semuanya cukup terintegrasi dan membentuk citra manusia yang dapat dipandang dengan segan karena banyak menuai pujian dari sebuah kebaikan atau dipandang dengan tatapan meremehkan seolah tak ada potensi yang melekat dan tertanam. Sungguh tak akan ada yang benar-benar bisa melihat kecuali sosok yang berkuasa di atas semua ciptaannya termasuk kita.

   Dalam setiap luka yang menetes di atas garam kehidupan, barangkali manusia sedang berusaha memahami dirinya sendiri sebagaimana Demian memahami bayangan di dalam cermin. Ia mencari terang bukan untuk meniadakan gelap, melainkan untuk menyadari bahwa keduanya adalah bagian dari satu tubuh yang sama. Di sanalah tiap manusia diuji: apakah ia mampu menanggung perih tanpa kehilangan arah, atau justru menyerah dan menyebutnya sebagai takdir? Seperti tokoh dalam kisah Hesse, kita mungkin sedang belajar menumbuhkan sayap di dalam dada, agar bisa menembus kulit telur dunia yang kita bangun sendiri.

    Namun ketika kesadaran itu datang, absurditas menunggu di ambang pintu sebagaimana yang dilihat oleh Meursault dalam L’Étranger. Kehidupan, ternyata, tak selalu memberi makna yang rapi. Ia hanya menyodorkan sunyi, sekaligus kebebasan untuk menafsirkan sunyi itu sendiri. Dan mungkin, dari reruntuhan nilai yang rapuh itu, lahirlah manusia yang diimpikan Nietzsche yakni mereka yang sanggup menari di atas kekacauan, menjadikan luka bukan kutukan, melainkan nyala kecil yang menuntun jiwa keluar dari gelap yang panjang.

 Manusia hanya perlu memuji dalam sebuah keindahan, mengajak dalam berbuat kebaikan, menjalankan jalan dan takdir yang tersurat dan telah ditetapkan, memaafkan hati yang meronta kesakitan, memberikan pengampunan bagi jiwa-jiwa yang jatuh dalam penyesalan atau sekedar memandang sesuatu dari kejauhan hingga pada akhirnya mereka akan meminta sebuah keniscayaan lewat doa yang menghunjam, karena mereka sadar bahwa " sungguh ini semua hanya berkutat dalam perihal kehidupan... tak ada lebih dan kurang."

    Ketika mereka mencoba mencari makna lebih dalam dari arti kehidupan sesungguhnya mereka terlambat menyadari bahwa yang mereka lihat hanya percikan kesederhanaan, sungguh saking sederhananya jalan yang ditunjukkan, membuat mereka tak kuasa mengumpat dengan mulut yang berbisa dan kejam. Semakin mereka menyelam mereka hanya melihat dua buah kemungkinan antara mereka yang mencapai sebuah hasil yang telah tampak di permukaan atau mereka yang hanyut dalam sebuah kebingungan dan terjerumus dalam jalan kesesatan pada sebuah penghayatan.“Dan di atas garam yang terasa asin itu, luka pun menjadi cara Tuhan menulis harapan dengan perih.”

Referensi lain yang merujuk;

Camus, A. (2021). Orang Asing. (Terj. Jean Couteau). Jakarta: Penerbit Gramedia.

Hesse, H. (2020). Demian: Kisah Pemuda Bernama Emil Sinclair. (Terj. Ade Hendra). Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Nietzsche, F. (2019). Demikianlah Sabda Zarathustra. (Terj. Ahmad Sahidah). Yogyakarta: Narasi.

Referensi lirik lagu;

♪ “Wish You Were Here” – Pink Floyd (1975)
♪ “The Sound of Silence” – Simon & Garfunkel (1964)
♪ “Stairway to Heaven” – Led Zeppelin (1971)

Berikut sepenggal bait.

Reda

 

Ia tak terjamah oleh waktu

Apalagi dengan kedua tangan mungilmu

Sebuah entitas yang memaksa dirimu tahu

Bahkan dengan jutaan darah yang sejenis denganmu ...


Meredam semua gelisah

Mengaburkan semua amarah

Cukup tunduk dan berpasrah…

Kau kan meninggalkan serpihan kisah


Membalut luka dengan sehelai kapas

Menggigit jari dengan menahan napas

Mengingat kala pernah terhempas

Hingga semuanya terasa impas


Melihat air jernih dalam jelaga

Bak melihat nurani dalam kotornya raga

Selalu mencari celah dalam setiap rongga

Demi terpuasnya rasa dahaga


“Mungkin, kita hanya perlu reda, bukan untuk lupa, tapi agar luka berhenti meminta alasan.”

~Dwiki Ariyadi

© 2025 Dwiki Ariyadi Wisnu Suputra. All rights reserved. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATIRE 1.8 "BAU MENYENGAT YANG ENGGAN REDA."

Surakarta, 1 Januari 2026

" DUNIA DALAM 64 PETAK "

Surakarta, 29 Maret 2026