Langsung ke konten utama

SATIRE 1.8 "BAU MENYENGAT YANG ENGGAN REDA."

Surakarta, 1 Januari 2026

    Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan  interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa  bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

    Ini sudah sepertiga malam tapi raga masih enggan untuk menelanjangi jiwa yang lelah, katup mata berwarna hitam... mungkin ia pertanda kemalasan yang meminta diri untuk sejenak diam. Lemari kaca tua persis menampilkan tubuh yang lusuh ini mengisyaratkan untuk segera menyerah kepada lawan, ingat... ia bukan musuh yang dapat kau kecam dengan sebusur pelangi yang menghalau ketenangan. Memang tenang itu apa? ia jelas bukan sebuah batu yang dapat digenggam, bukan pula air yang bisa kau raba atau semilir angin yang bisa kau rasakan. Ia memilih berdikari, mampu untuk hadir sepenuhnya ataukah  lenyap bersama eksistensinya yang sering kali menjadi tameng dalam menghadapi realita. Leher ini menengok atas arahan imaji didalam kepala, hanya dua buah lilin yang nyalanya hampir reda. Mereka seolah berbisik kencang entah ditelinga mahluk apa yang bisa mendengarnya. 
"Mungkin tugasku sebentar lagi usai, jaga api nya baik-baik, tampakkan senyuman yang menjajah kedzaliman dunia." 
    Bak mengaitkan benang ke dalam sulaman yang sudah jadi, orang-orang berkumpul dan berserikat mengenai kebaikan yang perlu mereka teladani. Konsensus tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar namun harapan mereka akan hidup itulah yang dapat membuka celah nadir yang goresannya belum sepenuhnya rusak. Seperti halnya seorang pramuniaga yang memecahkan beberapa buah vas, tapi sang pemilik hanya tersenyum dan mengenyahkan pikiran-pikiran yang ingin membusuk itu, tapi herannya bau menyengat sudah sampai didepan kasir, tapi ya sudahlah itu hanya gangguan resepesionis saja. Kemudian singkat cerita diceritakan Mr Daliman seorang pemangku adat berusaha berkabar dalam seminggu ini dengan masyarakat atas usaha musyawarah yang telah tercapai mufakatnya, ia bisa dibilang promotor juga yang menjembatani hal-hal yang mesti segera dilakukan untuk melenyapkan sang durjana kepada penasehat raja. Beliau menanyakan kabar sang raja yang tampak sering berpindah singgasana dari satu budaya ke kebudayaan daerah lain untuk mempererat hubungan multilateral kerajaan. "Baik saja sehat wal'afiat beliau, beliau berpesan untuk jangan gegabah karena beliau mempunyai caranya sendiri, jadi tunggu saja...". Mr Daliman berimaji mengenai kancil yang pandai mencari solusi bahkan ketika hampir dimakan buaya. "Paduka licik ya" gumam Mr Daliman terceplos mulutnya yang didengar penasehat raja. "Sudah lancang kau ya dengan tuan tanah disini ya?! memangnya kau pikir siapa yang mengirimkan sekantong beras pekan lalu untuk makan keluaraga kecil kalian hah?! Mr Daliman dengan spontan membantah tudingan itu, "Jadi maksudku licik karena cerdas dalam mengakali lukisan yang telah dibuat oleh seniman sebagai penegur manusia, jendral," Sang penasehat tampak diam dan mengiyakan karena tak sanggup menafsirkan, ini tentunya sudah dipikirkan Mr Daliman karena pikirnya jendral hanya mangkir dilapangan dan lari di alun-alun, jadi ia berpikir tak mungkinlah mereka melahap 600 halaman buku seperti yang aku lakukan di masa mudaku, rupanya Mr Daliman masih menyimpan congkaknya. Tak lupa sang penasehat memberikan titipan pada Mr Daliman sebelum pergi dengan kekalahan argumen. "Ini titipan raja berikan pada yang bersangkutan." Timbal jendral. "Baik amanahnya akan saya sampaikan." Jawab Mr Daliman. Terlihat dari kejauhan dari balik pohon andalas 3 anak yang bajunya penuh lumpur tengah mengintip, salah satunya ialah Boris anak usia 12 tahun yang ingin masuk pasukan merasa kecewa dan menyesal setelah melihat Pak Kyai Daliman mengocek kewibawaan jendral itu.
    Terdengar celotehan ibu-ibu yang mencuci pakaian yang tak kunjung memutih, sambil mengesek-gesekan ke papan cucian mereka sedikit demi sedikit membangun pondasi kritikan kepada ajudan raja yang kemarin mangkir disini bersama penasehat dan kru film nya, katanya sih untuk dokumentasi, yah sudahlah memang pekerjaan mereka merekam dan menyiarkan kebenaran. "Siapo namo anak belagak yang kemaren datang to?." Bu Siska membuka obrolan. "Iya lah tu, memang belagak nian, Firsa, Firrel.... eh Fikri nama anak tu." Bu Badri mencoba mengingat. "Kenapa pula awak cakap perlihal tu?." Bu Santi keheranan. "Tak da pasal lah, cuma tubu selik-selik, dio pake rompi yang besak sangat, apa mungkin kito hendak dijajah macam jepang zaman lepas tu?." Bu Siska berasumsi  "Iyalah rupanya macam bangsa london tuh, tapi kalaulah belagak tak payah pikir lah." Bu Badri menyemarakan. "Hussst... ! tak baik cakap macam tuh dio orang kan hendak bantu kito, janganlah pikir macam-macam." Bu Santi menegur. Tibalah waktu berlalu dan obrolan sudah tidak terikat oleh dimensi dunia saat itu, Mr Daliman menyapa para Ibu-Ibu yang tengah asik mengobrol di sisa waktu sore. Dan langsung saja memberikan amplop putih pada masing-masing dan buku filsafat setebal kamus indoensia-inggris. Tanpa sempat Ibu-Ibu menanyakan alasan Mr Daliman pergi untuk menjadi imam sholat ashar di langgar yang hampir ambruk itu. Uangnya mereka paham digunakan untuk keperluan sehari-hari saja namuan kejanggalan ada di buku tebal yang biasanya terpampang di perpustakaan daerah itu. Salah seorangnya penasaran dan membuka di halaman 247 tepat bagian penanda buku itu diselipkan ada selembar kertas 
"Bajunya tak akan bersih nona-nona cantik, karena yang aku cuci otak kalian. Jadi bersihkan itu dengan buku ini agar kalian tak seperti pasukanku yang sebatas pion catur kosong." ~Tertanda paduka raja, untuk penebusan dosa.
    Ku merenung didepan pos ronda yang masih ada dari sisa lukisan seniman, melihat sekitar penuh dengan warna coklat. Benar-benar tak ada yang seputih langit, bahkan langit itu warnanya setengah biru. Yang jelas dalam pikirku suatu lukisan perlu diimprovisasi oleh dewan juri agar bercak tinta dan noda tidak beranjak dari kanvas, memang itulah tabiat seniman ia melukiskan kita, menerpa dengan kuas-kuasnya tak ada yang bisa melarang imaji dan kuasa pada lihainya goresannya, maka tugas kita hanya memandang kertas itu dari kejauhan dan mengambil noda dan bercak yang berceceran. Saat pikiranku mulai kosong dan terasa sedikit hampa, dikejauhan terlihat Ustadz Daliman yakni guru ngajiku sewaktu masih di TPA dulu. Ia menyapaku saat aku juga akan membuka mulut. "Reno kok berdiri disini, diam aja kayak patung, mari masuk dan sholat berjamaah." Dengan sedikit malu aku menginjakan kaki ke bangunan yang lama tidak aku singgahi, namun penyesalanku justru mengapa saat bangunan nya tak terlihat indah aku baru mengajak hatiku pergi kesini. Selesainya peribadatan itu Ustadz menjulurkan tanganku dan memberikan sesuatu tanpa penjelasan yang berarti. Ia memberikan sebuah amplop putih dan satu renteng kopi yang disolasi dengan sebungkus rokok kegemaranku. Ustadz pergi begitu saja dan aku membuka amplopnya dulu untuk melihat uangnya. Dalam benakku ini pasti hadiah atas tidak adanya keraguan dihati. Kubawa semua pemberian itu ke gubuk yang ditinggalkan orangtua ku sepekan lalu. Niat hati ingin menyeduh kopi dan membakar rokok, lantas yang kudapatkan ada selipan kertas diantara 12 batang itu dan bertuliskan, 
"Kau tak perlu bersusah hati untuk kerja, biar kami yang kerja untukmu, sudah kusediakan kopi dan rokok gunakan itu untuk mencapai ketenangan, dan jangan lupa beli lilin dari uang yang ada, kali ini yang beraroma agar tercipta relaksasi yang menyeluruh." ~Tertanda paduka raja, untuk penebusan dosa yang kedua.
    Aku menyeduh kopi dan membakar rokokku, ketika berharap kengerian ini takkan menghantui di malam hari, saat masyarakat merundingkan lagi dan menggelar pengajian bersama membahas lukisan-lukisan yang hendak di audit. Kulihat disekelilingku hanya tersisa dapur, ruang tamu dan sebuah gitar klasik. Ku mulai petik dan mengingat ajaran Ayah padaku ketika memainkan lagu the beatman. Sejenak kala malam yang muda itu aku ingin menjadi seorang seniman dan bernyanyi untuk memberikan ketenangan pada dunia.

~Tamat

=Berikut sepenggal bait;

LUKISAN COKLAT DI TANAH ANDALAS

 

Di tanah Andalas air bah meluap pekat, 

Menutup hijau hutan dengan lumpur yang lekat, 

Nasib kami terikat pada janji yang sekarat, 

Tenggelam perlahan karena serakah kian mendekat.


Datanglah rombongan membawa sekotak bantuan, 

Sibuk berpose ria demi konten dan liputan, 

Lupa bahwa bencana lahir dari hutan yang kalian makan, 

Menyalahkan takdir Tuhan atas dosa kerusakan.


Kami disuguhi kopi dan rokok pereda duka, 

Agar lupa bertanya siapa penebang rimba raya, 

"Cucilah otakmu," bisik halus titah Sang Penguasa, 

Biar baju tetap kotor, asal diam seribu bahasa.


Lukisan ini abadi dalam warna yang suram, 

Menutup jejak kerakusan yang tertanam dalam, 

Di bawah pos ronda kami dipaksa untuk bungkam, 

Menikmati kehancuran yang perlahan mencekam.


Izinkan "raga yang enggan" itu menyerah pada tidur, agar esok "jiwa yang lelah" bisa bangkit kembali untuk mengaburkan ketenangan
~Dwiki Ariyadi
© 2026 Dwiki Ariyadi Wisnu Suputra. All rights reserved. 


    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

" DUNIA DALAM 64 PETAK "

Surakarta, 29 Maret 2026

SATIRE 1.7 "MENABUR GARAM DIATAS LUKA"

Surakarta 12 November 2025.