Surakarta, 29 Maret 2026
Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.
Jika Ia dapat bicara di telingamu maka hanya ada jeritan lirih tak berujung, jikalau bisa mengumpat maka seisi kebun binatang tak akan lagi cukup menampung olokan itu, bilamana ia dapat menyanjung tak akan kau dapatkan satupun yang bermakna, bahkan dalam kematianmu Ia tidak melihatmu lebih dari seonggok bangkai daging yang meninggalkan nista pada indah. Sungguh telah ribuan tahun Ia lewati untuk melihat orang-orang yang tak tahu diri menapak tanah, tak cukup menapak Ia bahkan merudapaksa sang penolong atas hidupnya. Semakin lama nyatanya tak ada setitik harapan, perutnya telah penuh dengan dosa manusia hingga Ia tak lagi naif dan buta pada apa yang manusia perbuat. Tak lagi segan Ia menelan satu atau dua jiwa semata, satu peradaban pun dapat dengan mudah Ia hanguskan bilamana Ia mencari penghakiman atas tubuhnya yang terkikis bukan hanya oleh waktu melainkan oleh kepala dan tangan yang kejam, berdarah dingin dan tak mau tahu arti ikhlas akan keadaan.
Sebuah koin yang dilempar memberikan probabilitas yang tak terhingga, kontras sekali baik sisi angka atau gambar, yang jelas tak ada yang tahu pasti dan berhak memberikan pembenaran atas pilihan yang akan datang. Seperti halnya kota yang menjanjikan mimpi indah, desa bagai perangkap burung yang dapat diharapkan terbang lebih tinggi. Mewah menjanjikan kenyamanan namun tidak dengan kebahagiaan, kemiskinan dijadikan bahan perundungan dan keterasingan. Idealis menawarkan dunia yang utopis dilain sisi industrialis melahirkan penjajahan material diatas humanis. Objektif sebagai sub empiris material atau subjektif sebagai dalil atas argumen jawaban. Sebuah buku pengungkap imajiner dibalik ketidakberdayaan penulis atau buku pemberdaya sang pembaca. Lantas berjuta hal apa lagi yang perlu diperdebatkan hingga membuat manusia tak lebih dari sepetak sawah yang telah di bagi-bagi sang petani mendekati masa tanam.
Manusia mudah dalam mendongakkan kepala ke atas namun lupa melihat ke bawah, setiap dari jiwa mereka merasa dirinya unik tanpa tahu berapa jiwa lainnya yang hangus terbakar. Kita tak pernah benar-benar keluar dari lingkaran kotor ini, karena tujuan kita hanya memperkeruh air yang sudah jernih sedari awal. Seakan mereka merasa tugasnya adalah mencabut ubun-ubun kepala, mengingkari isi hati dan kepala, merusak daging dan mengulitinya hidup-hidup, mematahkan beberapa tulang atau sekedar mengotori kedua tangannya. Dibalik hegemoni dan kodrat merusak mereka tetap menginginkan tempat yang hangat untuk pulang, sebut saja rumah. Naifnya mereka membasuh tubuh mereka dengan air hangat atau mencuci tangan dari noda-noda darah, sambil menyiapkan secangkir kopi untuk menemani mereka membaca buku, karya atau lukisan favorit yang mereka agung-agungkan.
Dari mana datangnya sebuah kerusakan? pertanyaan umum dengan kompleksitas jawaban yang tak pernah berujung bahkan bilamana dipikir hingga sisa-sisa kehidupan, namun ada keyakinan dimana awalnya mereka terbentuk dari keinginan masing-masing mahluk untuk hidup dengan nyaman, maka demi mencapai itu semua mahluk bisa saling berkompromi, bekerjasama, mengkhianati, menodai, mencabik, melukai, membunuh dan menginjak jasad sesamanya. Dari awal begitu maka akhirnya pun tak akan jauh dari apa yang mereka isyaratkan dulu.
Melewatkan beberapa luka, membentuk memar yang lain. Melukis beberapa kanvas, merobek sehelai kain. Membuat kewajaran dalam kewajiban disaat menghancurkan aturan lewat kenistaan, tak lebih dari epistemologi yang berkutat di bola-bola kepala. Mulut sibuk berdoa dan mengumpat, tangan sibuk memberi dan menganiaya, mata sibuk mencari fakta dalam kekalutan, otak berimaji tentang harapan diatas derita panjang, hati yang welas asih dalam bayang merana yang perih, bahkan itu belum menggambarkan semua coretan manusia di atas kertas yang hampir menjadi abu. Kita tak perlu menjadi putih untuk menyalahkan hitam, tak perlu menjadi merah sebagai lambang perjuangan, tak perlu menjadi subur untuk hanya melupakan gersang atau bilamana tak perlu bersusah payah dalam menawarkan kebaikan dalam bayang-bayang kenaifan.
Hanya ada satu warna dalam bidak catur yang kuharapkan, bukan putih tapi bukan pula hitam. Maka ia abu-abu yang kudambakan. Melangkah menerjang realitas tanpa menjadi sosok yang perlu di junjung bahu dan lututnya dengan mahkota yang terselip di ketiak, bukan menjadi kesatria yang menghalau satu batalion musuh dengan kuda betina, tak pula menjadi ahli iman yang membawa kitab dan sejuta kebenaran atau legenda jin amoral didalam sebuah botol.
Kuda menukik tajam dengan mengitari lawan ketika bersamaan sang menteri yang menyekat dua sisi miring untuk melindungi raja dari semua sudut kemungkinan, benteng yang kemudian tak tinggal diam dan mulai merontokan gigi pion-pion yang tak siap berkorban, era dimana sang ratu yang paling bersinar dalam menjatuhi hari penghakiman. Kejam, biadab, indah, licik kala kedua sisi saling menukar pasukan entah untuk kursi sang penguasa, sebutir gandum didalam sekam atau mungkin saja pengkhianatan dibalik sebilah pisau yang melekat di leher. Yang pasti tak pernah benar-benar usai dinamika konyol ini dalam 64 petak. Putih memotong kabut gelap, hitam mencegah langit tak berawan, pion sejuta potensi yang kerap diremehkan, petinggi yang tak sesuai jalan dan harapan, raja maskulin yang diserang tak melawan, ratu yang menegakan feminisme dalam hukuman atau arena pertempuran yang luasnya hanya hitungan jari.
Kalaulah dunia hanya sepetak papan catur maka kita hanya melaksanakan peran sesuai kesepakatan perang. Peran yang melekat menjadi takdir, peran yang tak pernah diinginkan, peran yang terkesan dipaksakan, peran yang senantiasa dimanfaatkan, peran yang diperah habis lalu buang dan sejuta peran lainnya yang bahkan tak pernah terdengar disebutkan. Sejauh-jauhnya peran bidak dalam sebuah papan tak lebih dari garis pembatas kayu yang disediakan, mengingat itu hanya kreatifitas sang pengrajin kayu dan ahli permainan. Pertanyaan mendasarnya adalah sudahkan kita melaksanakan sesuai ketentuan permainan, kapankah kemenangan yang selalu diharapkan kunjung datang, sudikah bidak keluar dari papan sang pemilik dan layakkah bidak membuat papan caturnya sendiri?
Berikut sepenggal bait;
Papan Yang Retak
Dalam sunyi dunia menelan jerit peradaban
Manusia berdiri megah di atas luka dan kehancuran
Ia mencipta dosa lalu menyebutnya peradaban
Dan menertawakan nurani yang mati perlahan
Koin dilempar tinggi membawa ilusi kepastian
Antara benar dan salah hanya bias penafsiran
Kemewahan dibungkus rapi sebagai kebahagiaan
Sementara luka disembunyikan dalam keterasingan
Tangan yang sama memberi juga mencabik kehidupan
Mulut berdoa lirih namun penuh penghakiman
Hati mencari damai di antara kebisingan
Namun terjebak dalam lingkaran tanpa penyelesaian
Di atas papan catur tersusun peran dan tuntutan
Pion melangkah tanpa pernah memilih tujuan
Raja bertahan dalam rapuhnya kekuasaan
Dan kita bertanya, adakah akhir dari permainan
"Diam menukik pelan dalam nestapa tak berkesudahan"
Komentar
Posting Komentar