Surakarta 1 November 2025.
Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.
Dalam fase kepala 2 ke atas sulit sekali bagi seseorang untuk membangkitkan alunan serenade yang kerap bersenandung satu dasawarsa lalu, entah ia meluap ke mana bersama kodrat seorang manusia yang selalu belajar dan bertumbuh. Yang pasti sedikit banyak terasa hampa dibalik semangat dan fisik yang masih membara, sisanya yang terasa hanya suara pekik memenuhi telinga dan isi kepala. Beberapa mencoba meneruskan jalan yang telah diwariskan nenek moyang, beberapa lainnya mencoba sedikit banyak menjajaki wilayah antah-berantah atau sisanya mungkin mencoba diam untuk sekedar meratapi dan melihat semuanya dari kejauhan mata. Dalam setiap langkah kaki rasanya ingin kuingat lagi bahwa kita masihlah makhluk bermoral di era dunia yang terasa tak lagi sepenuhnya sama, begitu semu... dan tak ada pancaran keunikan lagi yang terlintas oleh dua buah bola mata.
Yang pasti hidup akan terus berjalan maju, tak ada yang bisa menarik atau mendorong kuasa tuhan terkait waktu. Entahlah akankah tetap berlaku bagi manusia yang semakin gelap mata ketika melihat gundukan emas hasil kerukan perut ibu kita, manusia yang terperanga buta dengan mulut terbuka karena mesin dan teknik baru hasil kemajuan peradaban, atau sekedar manusia yang lupa bahwa menuntut ilmu itu sejatinya sebuah fitrah bukanlah sebuah lembar berisi angka dan hanya menjadi legitimasi di atas suatu kertas yang telah dibubuhi cap tinta. Semoga setiap manusia diberikan kemudahan dalam mencapai suatu hakikat kemanusiaan. Amin..
~
Kini ketika disambangi sebuah desa tampak bahwa jerit petani sawah kini tak terdengar lagi, imbas kalah merdu dengan suara motor industrialisasi pabrik hasil kerja sama antar negara. Terlihat ulat bulu tampak tak berselera lagi ketika dihadapkan kudapan dedaunan jambu, kini hanya terlihat burung gereja yang lebih lahap melihat santapannya lemas hingga kemudian terkulai berjatuhan satu persatu di atas tanah. Desa seolah dipenuhi keheningan yang sunyi dan hanya meninggalkan gelak tawa bocah-bocah desa yang ingin bergegas mandi di sungai. Kala itu benak Ku penuh dengan pertanyaan, lebih tepatnya ke mana warga desa pergi?
Hiruk-pikuk kota tak kalah ganjilnya, begitu ramai namun tetap sama saja, di tengah gaya hidup penuh urban tak ada seseorang pun kurasa yang mempunyai interaksi bermakna. Hanya ada 3 lontaran kata formal antara "tolong, maaf, dan terima kasih". Ketika kucoba menyusuri setiap jalan sudah pasti sepersekian detik akan kusadari bahwa gedung-gedung kian menjulang tinggi, ini bukan hanya hitungan meter mungkin kelipatan daripada itu. Infrastruktur semakin memadahi walaupun terkadang ia ternodai oleh tumpukan sampah dan vandalisme dalam bentuk kritik kepada sang raja. Adapun kini kendaraan dan ponsel pintar atau sekedar gaya fashion katalognya selalu diperbarui setidak-tidaknya dalam setahun sekali, ini sedikit banyak menjelaskan mengapa di era ketika media-media yang dapat menghubungkan kepala antar individu dalam sebuah komunikasi justru membuat mereka selalu memakai topeng dibalik sebuah relasi.
Mereka yang berinteraksi karena barang-barang terkini padahal perut mereka tak cukup kenyang karena itu, cukup logis mungkin bagi mereka agar setidaknya tidak ketinggalan zaman. Mereka yang terjebak dengan sistem sosial hierarkis di mana sesuatu yang di atas bagai tak bisa dipetik, kritik dan saran bagai tak dibutuhkan lagi, sisanya akan kalian temukan dalam dua pilihan yakni, pertama dalam bentuk pegawai yang menjilat kaki bosnya atau pegawai yang rela menjadi kuda dan ditunggangi kepentingan yang bahkan kerap kali bukan milik perusahaan. Atau mereka yang begitu bergairah dengan produk-produk pabrik ternama sedang sebenarnya ada prioritas yang lebih dapat diutamakan dibandingkan gengsi dan rasa malu, para muda-mudi baik pria dan wanita yang keluar dari pusat perbelanjaan mengasong puluhan tas belanjaan sedangkan ada juga orang yang mungkin hingga kini masih memakai karung beras dan seikat tali untuk menutupi tubuh mereka yang kurus dan gersang dibakar sinar matahari.
Seolah di zaman sekarang kita terlalu sok pintar melihat komoditas yang bahkan kita tidak tahu bahwa mungkin saja ada orang yang justru melihat kita sebagai sebuah komoditas, sungguh hina sekali ketika kita hanya dilihat tak lebih dari seorang manusia dengan daya konsumerisme yang tinggi. Mungkin para perokok akan tahu merk rokok yang paling terasa memuaskan bagi mereka tanpa menyadari bahwa mereka telah dihisap dan diperas oleh suatu kompeni melalui produk yang mereka jajakan.
~
Disela-sela Ku berjalan sebagai seorang pedestrian dalam keramaian kota aku agak sedikit terheran mengapa semakin jarang sekali kutemui orang yang mau menggunakan 2 kakinya untuk berjalan seolah sekarang lebih lazim menggunakan mesin beroda buatan jepang itu, aneh sekali Kurasa bahkan ketika dalam jarak dekat sekalipun. Entahlah karena layaknya seperti yang lain di mana ada esensi harus mengikuti perkembangan zaman atau kita kembali melihat sebuah rasa malu dalam melalui kesederhanaan. Ada kalanya ketika rasa malu yang tumbuh dalam seorang individu akan bertumbuh ke individu lain hingga pada level society. Agaknya miris sekali ketika perempuan takut berjalan kaki sebab sering mendapatkan pelecehan verbal dari orang sekitar, trotoar sebagai tempat pijakan kaki agar nyaman berjalan kini lebih kerap digunakan pada kaki-kaki gerobak pedagang hingga yang terhina adalah roda dua yang kerap mangkir tanpa bersalah demi melawan arus ibu kota.
Ini sudah pasti sebuah teguran yang berlaku bagi para raja yang tengah duduk disinggasana istana, bahwa ketika rakyat telah cukup membayar uang upeti baiknya buatkan sebuah peraturan yang sifatnya membenahi bukan membebani tanpa arti atau setidaknya sekedar mendamaikan hati, emisi dimulai dari diri sendiri bukan dari campuran bahan-bahan non alami buatan kerja sama antar negeri-negeri. Pemimpin adalah cermin dan panutan masyarakatnya, dari ujung kaki, celana hingga kepala melambangkan sebuah kebanggaan akan calon yang telah mereka pilih, sungguh dibalik kejamnya tindakan masyarakat kita sekarang, mungkin masih banyak hati yang menginginkan negara lekas pulih bukannya saling berselisih karena panutan mereka suka berdalih.
~
Tiba Ku di persimpangan ujung jalan menuju tugu di tengah kota, mendadak Ku berpapasan dengan kawan lama, Bondan namanya. Ia kawan karib Ku semasa di desa, namun bagai melihat orang asing, tampilannya kini telah jauh berbeda. Amat sungguh berbeda.... berbeda dari bondan yang dulu humoris dan suka bercanda, kadang juga ia marah ketika diledek anak-anak kampung sambil melemparkan peci hitam atau baju putih lusuh yang dikenakannya. Semasa hidup didesa dulu dalam fase kepala 1 seolah itu sebuah kombinasi yang luar biasa, pikiran kita masih bereksplorasi kesana-kesini, berinteraksi lebih dalam lewat permainan tradisional atau sebatas membayangkan cita-cita masa kecil, di mana kala itu didikan orang tua yang cenderung keras lebih relevan kurasa dibanding memanjakan anak tanpa arti. Bondan yang dulu terkenal anak soleh dikampung kini jangankan sorban, fashion yang sedang ia pakai saja serba bermerk entah dari ujung kaki hingga ujung kepala di hadapanku, sebetulnya tak terlalu kupedulikan juga, hanya saja yang sempat membuatku menggelengkan kepala tampaknya lebih ke sifatnya yang banyak berubah seirama dengan berubahnya penutup kepala yang ia pakai secara sebelumnya ia hanya menggunakan peci hitam semata. Tapi setidaknya ia masih menyapaku walau dengan bahasa yang mulai melebur dengan chaos nya sebuah kota.
Di situ kusadari penuh, bagaikan sebuah magnet yang menarik logam, kini gaya-gaya khas urban di sudut-sudut metropolitan seakan menarik orang-orang desa untuk sekedar mencicipi kehidupan yang menggiurkan, dan semestinya mereka pikir lazim diikuti agar tidak ketinggalan bus. Sebenarnya masalah kebutuhan tersier dan yang lainnya bagiku hanya pemain figuran yang jadi permasalahannya kini hampir tak ada lagi pembatas beda antara kehidupan sederhana dan kehidupan yang menuntut zaman, setidaknya dahulu masih kerap ditemui segregasi antar keduanya yang kemudian dapat dijadikan sebuah pedoman agar bertindak seimbang dalam sebuah kehidupan, namun kini tampaknya kiblat akan moralitas dan akal logika dalam bertindak semakin digerus perkembangan yang ada.
~
Di tengah gegap gempita dunia yang menamai dirinya modern, manusia perlahan menjelma seperti apa yang disebut Baudrillard sebagai makhluk konsumsi tak lagi mencari makna, melainkan simbol untuk menutupi kehampaan. Di sanalah penyakit yang dimaksud Fromm berakar yakni ketika masyarakat yang tampak sehat justru sedang sakit, karena kehilangan kemampuan mencintai dan berpikir bebas. Kierkegaard barangkali benar, bahwa penyakit terdalam manusia bukan pada tubuhnya, melainkan pada jiwanya yang lupa mengenal diri, lalu berusaha sembuh dengan cara yang kian menjauhkan dari hakikat hidup itu sendiri.
Maka begitu pula ketika Harari menulis tentang manusia yang bermimpi menjadi Tuhan dan Goenawan menyindir lewat catatan-catatan kecil tentang dunia yang kian kehilangan rasa, kita hanya bisa tersenyum getir. Sebab di balik segala kebanggaan akan kemajuan dan penyembuhan, barangkali kita sedang berjalan mundur menjadi makhluk yang terlalu pintar untuk sederhana, dan terlalu sibuk untuk menjadi manusia.
Kemajuan zaman yang terjadi sekarang seolah bukan untuk mendorong kita demi memaksimalkan potensi akan ilmu atau esensi dasar pengetahuan yang ada, namun justru sekarang kita seolah menutup mata sebelah dan hanya mengharapkan sisi fungsional bagai peternak yang memerah sapinya hingga mati mengering. Moral manusia agaknya perlu diseimbangkan karena pada hakikatnya pusat kontrolnya ada dalam diri individu sendiri layaknya seorang sopir, ia tidak kaku oleh norma dan adat yang selalu mengekang namun tidak melebur dengan kebebasan tanpa syarat. Kalo sudah begini jadinya, apa bedanya manusia dengan sebuah komoditas layaknya sebungkus rokok atau sekarung beras?
Referensi yang merujuk:
Fromm, E. (2001). Masyarakat yang sakit (Terj. Nugroho, Y.). Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan 1955)
Sabak
“Kita sembuh, tapi rasanya tak lagi hidup”
Komentar
Posting Komentar