Surakarta, 11 Mei 2026.
"Di dalam beribu tulisan lalu yang tak sampai, saya dedikasikan tulisan ini untuk Almarhumah Ibunda yang sepantasnya beliau telah mencapai kebahagiaan yang teramat lama dirindukan oleh orang-orang yang beriman. Terus menyeruak dalam benak saya yang penuh keyakinan, beliau adalah orang terhebat yang setidaknya tertuang dalam hidup saya, jauh sebelum saya memahami bahwa agama menyuruh saya untuk berbakti kepadanya. Maka seperti hal-nya hamba yang dirindukan pemiliknya maka keikhlasan hanya perlu ditandaskan pada setiap hati manusia, karena sungguh padanya kita kembali dan hanya menyisakan waktu yang terus berjalan untuk isyarat mencari bekal. Alfatihah..."
Di saat malam terakhir hatiku memang terasa sunyi, bukan lagi tetesan air mata yang mengiringi tetapi sebuah pikiran yang berkecamuk liar dan mengundang asumsi-asumsi terburuk sepanjang hidupku. Fatamorgana tentang api yang nyalanya redup sekali seolah diselimuti angin malam di tengah dinginnya gurun pasir, ketika dalam benakku tak terpikirkan lagi cara agar cahayanya tetap hidup dan menerangi setiap langkahku di esok hari. Maka kejadian itu nyata adanya kurasakan... bahwasanya gelapnya malam terlihat ingin mengulangi tabiat yang sama tanpa memberi sedikit celah cahaya bagi sang mentari.
Elegi ini menghantui bukan dalam perasaan duka, bukan pula kesedihan atau amarah namun hanya menyisakan hampa yang tak berkesudahan. Dalam segarnya pagi hanya kurasakan debu yang beterbangan di sela-sela dua buah kelopak mata, berharap riuhnya siang hari dapat mencerna kejamnya kalut namun sungguh tak pernah kutemui lagi raga yang dapat membalut luka dengan lembut, bahkan dalam suatu gelap yang terus terulang dari hari ke hari tanpa menawarkan sebuah negosiasi dalam meninggalkan sepatah arti.
Esok tak pernah sama lagi, ayam jantan tak berkokok sebagaimana mestinya seolah hari itu langit menyelimutiku dengan perasaan nestapa. Beririsan dengan sepenggal denyut nadi yang mengoyak jiwa serasa menghempaskanku ke dalam palung terdalam samudera. Tenggelam... tak bisa mendengar, melihat, berteriak, mencela dan mengumpat. Di hari itu jiwaku jauh dari kata permata, ia kugambarkan sebagai sebuah bongkahan besi tua di dasar laut luas tak bercerita. Menangkapku… mencengkeram … hingga mencabik raga-raga yang tersisa di dalam setengah sadar isi kepala.
Kala kubayangkan siluet seorang pria asing di tengah kerumunan kota, menatap tajam ke dua buah palang arah tujuan yang saling kontra dalam mencapai destinasi yang berbeda, sayup kudengar suaranya hanya bergumam tentang sesuatu yang tak sampai ke penerimanya, matanya yang sayu berbekas hitam terlihat kerap dilintasi aliran air yang telah lama mengering, meski dilihat dari mana pun ia tetap seorang pria yang kelak dewasa, walau kadang tak sampai hati melihat bahunya yang ringkih dengan punggung yang terlihat semakin tunduk merengkuh.
Dalam imaji lain seorang pria tersebut digambarkan sebagai seekor hewan yang kehilangan arah untuk pulang, ia seolah kehilangan induknya walau tabiatnya tak sama seperti seekor ayam yang harus dierami sebelum menetas demi melihat teriknya sinar matahari. Hewan tersebut dalam penggambaranku memiliki sepasang tanduk, ya sepasang tanduk yang kuharap tak lekas retak, jadi ia dapat melindungi dirinya sendiri dari terkaman kejam rantai ekosistem makanan, berkat induk hebat yang mengajarinya agar tetap kuat dalam situasi apa pun.
Ku ditarik lagi oleh realita dibandingkan imaji semata, di mana dalam beberapa hari menuju beberapa minggu berlarut kini semakin ku berpikir kenapa mesti perempuan yang ku kasihi, kenapa ia adalah sosok yang mesti tiada dalam keseharianku, setelah dua dasawarsa ku merasa hidupku hanya hal yang baik-baik saja ketika bersamanya. Ingin aku kecam seluruh dunia, atau mestinya saja langit yang mengambilnya dariku. Ia bagai menjelma bentuk pelangi di saat badai petir datang menghampiri, Ia kusebut rumah ketika tak ada ruang hangat lagi yang aku pahami, Ia membawaku merasakan surga di antara banyaknya hal-hal fana di dunia, Ia adalah teman untuk berbagi dalam sepenggal zaman yang penuh ketidakwarasan, Ia selayaknya figur pelindung yang tak pernah merintih dan berkeluh kesah.
Maka yang semakin kupahami adalah hanya ia yang justru tak pernah bercerita kepadaku, kerap ia memendam semuanya dalam angin lalu, lupa dan acuh saja bagai telinga yang disapu ombak yang menderu, menyingkirkan hal-hal yang tak perlu seolah demi memastikan inang yang tak membuat layu bakal buahnya. entah ini terasa curang atau memang bentuk kasih sayang, wanita itu hanya meninggalkan senyuman di lesung pipi sembari mengayunkan tangan tua demi mengelus rambut anaknya yang bodoh dan tak dapat memahami isi hatinya yang tulus dan sebenar-benarnya.
Sang durjana kehidupan... menyangkal analogi akan kebajikan. Di hari penghakiman apakah kelak aku pantas dihukum? Nafasnya yang sejalan dengan kelahiranku tapi aku tak bisa membersamai nafas terakhirnya, punggungnya yang rela menopang keperluanku namun belum kusanggupi punggungku sebagai gantinya, ribuan air mata yang mungkin tak pernah kulihat dalam sepertiga malam namun diriku yang tak pernah menangis seperlu itu, mulutnya yang santun dan mengucapkan keinginan dan harapan nyata sedangkan aku yang masih menyumpah serapah dunia, tangannya yang kerap membelai wajahku namun jarang ku belai rambutnya yang kian memutih termakan waktu.
Hanya kata maaf yang tak terucap di ujung lidah, bahkan diucapkan ia tak lebih dari sebuah bom waktu, maka entah apapun juga yang akan aku katakan maka semua itu akan membuatku kembali tersedu karena jawabannya hanya mengarahkanku untuk ikhlas. Tanpa pamrih... ia adalah sosok wanita utama dalam hidupku, wanita yang memiliki pemahaman yang sempurna, perempuan hebat yang adil dalam menyanggupi hak dan kewajiban sepanjang hayatnya, seorang ibu yang luar biasa bagi anak-anaknya, seorang guru tanpa tanda jasa, seorang istri yang patuh dan setia dan seorang muslimah yang sepenuhnya berserah kepada sang maha kuasa.
Perginya hanya menyisakan kedua tangan yang terlipat tanda isyarat doa, banyak yang hadir dalam mengingat kebaikannya walau tak akan menyudahi rasa duka dalam waktu yang lama, dan di antara ribuan doa yang di hunjam pada beberapa malam, doa ku menyisakan satu pengharapan, pengharapan terhadap hari yang dijanjikan yakni suatu hari di mana ketakwaan dibalas oleh kemuliaan, kemuliaan yang abadi dalam keniscayaan, kemuliaan yang terukir jelas dalam Lauhul Mahfuz dan serta kemuliaan dalam ridha bagi mereka yang pantas mendapatkan.
Kini rumah tak lagi sama, hanya beberapa foto yang masih terpajang di seberang-seberang dinding. Momen-momen yang ditangkap monokrom untuk mengenang masa lalu, masa yang pernah ada, masa yang dapat dirakit kembali walaupun tak akan ada kelanjutannya, masa untuk menenangkan rindu yang menggerogoti serpihan-serpihan jiwa, masa untuk merefleksikan ketetapan takdir tuhan dan suratan alam semesta.
Ini akan berlalu tapi tampak masih terasa abu, aku bahkan tak tahu menahu apa ujungnya, sejalan dengan apa yang aku bayangkan di dalam sepotong otakku, maka bagiku biarlah, biar ini tersapu… biar semuanya kembali menjadi butiran pasir putih di pantai, biarlah, biar ini terlewati… selayaknya daun gugur yang mengering di ujung musim kemarau, begitu pun biar, biarlah ini dipendam hingga ujung ajal tiba menjemput. Memang selayaknya hidup perlu dirayakan, kita hanya harus mengikhlaskan yang telah pergi dan merayakan yang masih tertanam di dalam hati untuk tetap melangkah ke depan melihat mimpi-mimpi yang terasa semakin menjadi sebuah bualan dalam balutan doa dan harapan.
Perempuan dalam Bingkai Figura
Dalam figura usang terpatri wajah penuh cahaya
Mengajarkanku arti pulang lewat lembutnya doa
Kini sunyi menjelma malam tanpa ujung dan suara
Sedang rinduku berjalan sendiri memanggil namanya
Langit kehilangan warna sejak kau pergi selamanya
Rumah hanya menyisakan gema langkah dan cerita
Pada dinding tua kugantung serpihan tawa kita
Namun waktu tetap dingin membawa arah berbeda
Aku adalah anak yang tertinggal di lorong nestapa
Mencari hangat pelukan di antara debu dunia
Sedang engkau menjelma pelangi setelah badai reda
Menjadi cahaya paling jauh yang tak mampu kugapai lagi adanya
Jika kelak hidup menua dan tubuhku melemah renta
Namamu tetap abadi di relung paling dalam jiwa
Sebab cinta seorang ibu tak pernah benar-benar sirna
Ia hidup dalam doa, kenangan, dan air mata manusia
Sungguh jika ia masih menyala, sambutlah dia dalam hangatnya kegembiraan
~DwikiAriyadi untuk seluruh wanita hebat
Komentar
Posting Komentar