Langsung ke konten utama

SATIRE 1.9 "MERAMU SECANGKIR KETENANGAN"

Surakarta, 30 Mei 2026.

Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan  interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa  bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

    Tak ada damai dalam senandung yang terdengar seolah semua samar dengan segala ngeri yang menghantui raga dalam setengah kewarasan hidup di dunia. Gelombangnya terasa memecah sebagian isi kepala, ada impian yang perlahan sirna, ada realitas yang membabi-buta atau dalam bagian yang sepertiga ada doa yang kerap menyadarkan akan lupa kepadanya. Masa-masa yang tak sama lagi kurasa, lautan manusia tak jauh dari setetes air yang tak bisa memilih muaranya, begitu hitam dalam putihnya cahaya atau tampak bersinar di antara ribuan noda, bahkan ketika dicongkel dua bola mata hati tetap masih bisa merasakan ujung derita yang belum tampak nyatanya. Dalam pergolakan rasa, penjara akan batin dan rasa nestapa mungkin hanya syukur yang mengulurkan tangan kepada kita semua.

    Jenuh yang meluap dalam diri bagai saluran yang mampat karena banyaknya air, begitu muak melihat sesuatu yang berulang kali ataukah sebatas rasa takut dalam menormalisasi hal hina? Kalaupun bumi sudah tua mungkin lebih baik ia berpikir untuk tiada dibanding melihat manusia yang melecehkannya, berpikir untuk lebih baik menghadap sang kuasa dan meninggalkan semua amanah yang dibebankan kepadanya. Tapi apa? bahkan bumi lebih memilih menjalankan suratan takdirnya dalam benih-benih keikhlasan walau kadang kerap berkompromi dengan alam untuk menurunkan peringatan kepada para penjahatnya.

    Kedzaliman yang dikemas dalam bentuk pengorbanan, dermawan dalam sebongkah kesombongan, kepemimpinan dalam ekosistem rantai makanan, kekhilafan yang berulang dalam kesadaran atau mungkin sebuah dosa yang menjelma menjadi kebajikan. Perlukah? Pantaskah? Untuk apa semua ini? apa hanya untuk meninggalkan sekotak cincin dan permata untuk anak-anaknya sedang anak lain perlu menyantap sisa bungkus orang lain agar tak mati oleh perutnya sendiri? apa hanya demi sebuah jasa yang dikenang dalam buku-buku mata pelajaran? apa untuk sebongkah emas yang akan masuk dalam sepetak liang lahat? ataukah demi ribuan lembar surat-surat yang penuh dengan darah akan sengketa?

    Perlahan dalam keterpurukan dari zaman ke zaman manusia semakin sulit bermimpi kecuali dalam tidur pulasnya, penampakan dalam lidahnya mengisyaratkan bahwa mimpi adalah sesuatu yang gratis dan mudah diucapkan tetapi lupa bahwa ia dibayar dengan realitas yang lebih kompleks dan kejam, masa ketika takdir sudah ditakar tapi bisa saja ditukar seolah iman akan takdir perlahan meredup diambang batas usaha, ketika kalimat motivasi terasa menjadi bualan saja karena segelintir dari kesuksesan bentuknya hanya formalitas semata, atau bilamana didapati sebuah kesempatan maka hanya didapati orang-orang yang kerap salah tafsir terhadap maknanya.

    Ambisi yang kerap menghabisi sesamanya, ada yang merasa cukup walau kadang ada yang ingin lebih. Maka persetan di atas kertas dengan hak hidup yang sama ketika beberapa ingin angkat piala walau kadang hanya ada yang ingin sekedar melihatnya. Mungkin ada yang perlu satu buah, dua buah atau tiga buah walau tak menutup kemungkinan akan ada yang ingin memenuhi semua lemarinya dengan segala pencapaiannya. Egosentris telah meracuni harkat hidup manusia, melebihkan yang tak ada ketika meniadakan yang seharusnya miliknya. Melihat kebahagiaan bukan karena sebuah rasa dalam diri tapi sebatas melihat standar yang ditawarkan dunia, perkara kebebasan adalah milik kita semua tanpa menyadari bahwa ada keterbatasan yang berhak kita pilih. Banyak yang tumbang akan mimpinya walau kadang ada yang berhasil sebagai sampel yang sempurna, maka apa pun pilihannya takarannya hanya sebuah pemahaman yang sempurna yang melandasi kebijakan di dalam hati.

    Kita perlu hidup, maka jawaban mutlaknya sudah menjadi barang tentu. Namun terkadang sekarang manusia seenaknya menakar bagiannya lewat kedua tangannya yang kotor, berdalih atas usaha yang penuh peluh keringat tapi melahirkan rasa congkak untuk berkuasa di atas segalanya, mungkin hari ini dalam bentuk harta, esoknya nyawa ataupun mungkin lusanya bisa jadi sebuah kuasa atas negara. Maka tak heran dalam dewasa ini ada yang ingin lebih dari sekedar manusia untuk mendapat julukan sang maha kuasa. Sungguh biadab pengakuan yang tak semestinya, memang bagaimana penggambarannya? bukankah tuhan adalah Dzat yang jauh lebih mulia, bukan seseorang yang telah merasa meninggi karena berjalan dan lupa bahwa ia pernah merangkak, bukankah tuhan adalah Dzat yang maha adil, bukan seseorang yang tak bisa melihat realitas dan menutup kedua telinga, bukankah tuhan adalah Dzat yang maha mengetahui, bukan seseorang yang tak memahami diri sendiri, orang lain atau bahkan rakyatnya sendiri.

    Barangkali ketenangan memang bukan sesuatu yang ditemukan di ujung perjalanan, melainkan diramu perlahan dari serpihan-serpihan hidup yang berserakan. Dari kegagalan yang mengajarkan penerimaan, dari kehilangan yang menumbuhkan keikhlasan, dari luka yang mengajarkan makna bertahan, dan dari syukur yang membuat kita berhenti membandingkan bagian hidup dengan milik orang lain. Sebab secangkir ketenangan tidak pernah diseduh dari kehidupan yang sempurna, melainkan dari kemampuan untuk berdamai dengan apa yang telah ditetapkan, memperbaiki apa yang masih bisa diusahakan, serta menyerahkan sisanya kepada Sang Pemilik Kehidupan.

    Hidup adalah sebuah pilihan, pilihan untuk menatap maju, pilihan untuk memenangkan isi kepala dan hati, pilihan untuk sejenak melihat masa lalu dan melakukan refleksi atas nya, pilihan yang mendorong untuk menjadi insan yang lebih baik walau kadang menjadi sebuah pilihan yang ingin merasa menjadi yang terbaik. Maka barangkali tak ada salahnya sesekali menatap tanah daripada terlalu sering melihat tingginya langit, bisa jadi kita menjadi sadar bahwasannya sejatinya kelak tempat kita akan lebih rendah daripada tanah itu sendiri.

Berikut sepenggal bait;

Setelah Riuh

Di antara riuh dunia kucari maknanya
Menyusuri luka yang tak sempat bersuara
Menakar harap di atas rapuhnya usia
Hingga kusadari syukur adalah muaranya

Banyak yang berlari mengejar gemerlap fana
Menggadaikan nurani demi singgasana
Padahal hidup hanya persinggahan sementara
Sedang pulang tetap menjadi akhirnya

Ada yang menang namun kehilangan rasa
Ada yang jatuh namun menemukan cahaya
Sebab tak semua yang berkilau bernilai mulia
Dan tak semua yang sederhana kehilangan makna

Maka kuramu secangkir tenang seadanya
Dari ikhlas yang tumbuh di tanah kecewa
Dari doa yang tetap hidup dalam dada
Dan dari ingat bahwa semua akan kembali kepada-Nya

"Pada akhirnya, ketenangan bukan tentang memiliki dunia, melainkan tentang mengetahui kapan harus melepaskannya."

~Dwiki Ariyadi
© 2026 Dwiki Ariyadi Wisnu Suputra. All rights reserved. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATIRE 1.8 "BAU MENYENGAT YANG ENGGAN REDA."

Surakarta, 1 Januari 2026

" DUNIA DALAM 64 PETAK "

Surakarta, 29 Maret 2026

SATIRE 1.7 "MENABUR GARAM DIATAS LUKA"

Surakarta 12 November 2025.