Surakarta, 15 Juni 2026.
Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.
Melihat langit yang semakin semu, sedang di daratan hanya ada lintah yang menghisap darah dan nanah sambil melayangkan doa pengantar tidur, begitu lelap.... sepenuhnya hitam tak jelas lagi akan adanya cahaya, anehnya menyisakan sebuah bayangan merah seperti sebuah penghakiman dosa. Alih-alih hanya semu, selebihnya mereka fana, tak jelas lagi kaidahnya, tak jelas lagi destinasinya. Hanya ada taman yang penuh bunga layu karena tak ada yang peduli dengan keindahannya, dahulu dikehendaki untuk mekar, sekarang ditinggal setelah selesai elok dipandang. Dalam ucap sekarang, maaf sudah tak berbekas, menghadirkan luka yang enggan menutup seolah berbisik kepada telinga untuk segera tunduk dan menyerah. Dan dalam ketidakpastian itu, ada beberapa sura yang menghampiri.
Barangkali karena terlalu lama memandang langit yang tak lagi memberi jawaban, akhirnya manusia belajar berbicara dengan gema pikirannya sendiri. Di antara sunyi yang menggantung dan luka yang tak kunjung pulih, lahirlah berbagai sura yang mengaku sebagai penuntun. Sebagian menawarkan penghiburan, sebagian lain menjerumuskan dalam keraguan yang lebih dalam. Namun ketika hati telah letih membedakan keduanya, setiap bisikan terdengar sama benarnya dan sama menyesatkannya.
Bait pertama berbisik bahwa tak ada iblis, tak ada pula malaikat niscaya hanya seonggok daging berjalan dengan mulut yang tajam dan pikiran penuh candu dan nikmat. Awalnya disambut hangat oleh jiwa yang mendambakan teman, teman dalam kejahatan, teman dalam kebajikan, teman seperjuangan, teman perjalanan maupun sebagai teman dalam kisah-kisah buku dongeng. Fiksi dan fakta tak lagi beda, karena kelak datang zaman untuk mengira-ngira, tak ada lagi kepastian di depan mata yang sekadar menentramkan batin yang luka akan realita.
Bait kedua mengisyaratkan bahwasanya tak tampak lagi yang lebih penting daripada menyantap sepiring makanan, segelas minuman demi melepas dahaga, tidur pulas untuk menyudahi hari, bersenggama dalam selasar cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis lainnya. Kusebutkan itu-itu saja maka sisanya hanya takdir yang maha kuasa. Setidaknya dalam hidup pernah sekali saja kita pernah mengumpat pada ketetapan yang ada, tak ingin lagi tuhan untuk menunda niscaya, karena sungguh tak ada yang ingin jatuh dalam nestapa
Dimana ketika pemahaman telah mengoyak maka bait tak lagi bersenandung, hanya ada sebuah renung. Memang apa yang kau harapkan dengan semua yang segera sirna? lupakah kalian bahwa hanya beberapa butir tanah yang menemani kalian dalam dinginnya malam? sisanya ya hanya percaya yang belum lenyap sepenuhnya, setidaknya tak lebih dari sebutir biji jagung yang merekah dalam seminggu kemudian. Bangunlah kalian kalaupun itu masih mampu, biar kalian sendiri menyadari bahwa tubuh yang dulu gagah ini, penuh kemolekan dan ketangguhan hanya tersisa tulang kering yang bekas patahnya masih ada setelah satu dekade lalu.
Maka jangan terlalu angkuh pada langkah yang hari ini terasa pasti. Sebab waktu memiliki caranya sendiri untuk merapuhkan segala yang tampak kokoh. Kelak, ketika nama hanya menjadi kenangan dan wajah telah kabur dari ingatan banyak orang, mungkin yang tersisa hanyalah pandangan terakhir ke arah langit. Langit yang masih berwarna biru, tetapi sejak awal memang tak pernah benar-benar dapat digenggam. Namun barangkali manusia tak pernah benar-benar hidup hanya untuk meratapi kefanaan
Bukan lagi renung, kali ini sebuah imaji bahwa telah tampak dunia yang begitu luas dengan hamparan hijau di depan mata, walau nyatanya bentuknya tak lebih dari sangkar yang tak membolehkan seekor burung mengepakkan sayapnya dengan bebas, lagi pula bebas pun masih kerap disalahpahami sebagai sesuatu yang asing nan amoral. Maka perlu sebuah navigasi atau radar dalam mencapai ketinggian yang kita inginkan. Terbang pun bukan hanya untuk memanjakan mata, namun juga untuk melihat bahwa kita tak lebih dari titik-titik dari kejauhan sana.
Habis renung bukan pula imaji, kini hadir untuk menyadarkan diri bahwa mungkin ini hanya mimpi dalam suatu tafsir? sebab sedari awal tak pernah terbayangkan dalam benak untuk melakukan refleksi apalagi perihal berbenah sedikit saja, semakin tak nyata ketika terlihat kain putih yang rapi menempel ditubuh seolah ia mengenalnya sejak awal, lengkap tercium dengan bau bunga mawar yang mengalahkan beberapa parfum ternama namun janggalnya tak ada lagi sambutan kehormatan ataupun caci makian. Sungguh hanya tangisan,... seolah tahu betul mana yang benar melayangkan duka dan mana yang hanya berpartisipasi saja. Tak ada lagi suara turbin pesawat yang menerjang putihnya awan, menyisakan kendaraan dengan bantuan empat manusia dewasa sebelum akhirnya sadar bahwa semuanya telah gelap dan terasa sempit, hanya meninggalkan harum dari bekas serpihan kelopak bunga
Saat telah disadari dari mimpi panjang tak berkesudahan, dirinya terbangun bersama dengan beberapa tong sampah dengan bau yang menyengat, walau tak sebanding dengan harum anyelir dari ribuan raga yang telah terbunuh itu. Kala itu Ia menyadari bahwa tangan kanannya yang memegang kitab suci sedang tangan yang lain memegang botol anggur bekas minum kemarin. Ia mencoba berdiri dan berjalan menuju kerumunan kota ditemani oleh matahari yang hampir terbenam, pertama kalinya Ia merasa tak lagi seperti seorang pecundang yang takut berkaca didepan cermin namun sia melihat penampakan seorang manuisa yang bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri bagai burung hiasnya yang Ia terbangkan dari sangkarnya tiga minggu lalu. Dan ketika semua telah menjadi debu, Ia kembali menatap langit yang sama. Masih biru, masih tampak semu. Bedanya, kali ini Ia tak lagi meminta jawaban darinya.
~Finn
Berikut sepenggal bait;
Tafsir atas Yang Fana
Langit menggantungkan warna yang kian pudar
Sedang manusia sibuk menafsir yang kian samar
Di antara doa dan dusta yang saling beredar
Aku mencari makna yang enggan tergambar
Tak ada yang lebih setia dari rasa perih
Ketika harapan perlahan memilih untuk beralih
Meninggalkan hati yang belajar hidup dengan jernih
Walau sesekali masih ingin menyerah dan letih
Kudapati waktu berjalan begitu pelan
Namun tanpa aba-aba ia mengubah seluruh haluan
Menyisakan kenangan yang berjatuhan di jalanan
Serta impian yang tak sempat menemukan tujuan
Dan bila kelak tubuh kembali menjadi kelam
Biarlah namaku hanyut bersama senyapnya malam
Sebab segala yang kukira abadi ternyata ikut tenggelam
Sedang langit tetap semu dalam diam yang dalam
"Sebab pada akhirnya, yang benar-benar hilang bukanlah hidup, melainkan kesempatan untuk menjalaninya sekali lagi."
~Dwiki Ariyadi
© 2026 Dwiki Ariyadi Wisnu Suputra. All rights reserved.
Komentar
Posting Komentar