Langsung ke konten utama

" LEMBAR UNTUK MAHLUK APOKALIPTIK "

Banjarnegara, 3 September 2026.

Disclaimer (!!!) : Dimohon kebijakannya untuk membaca dengan seksama, jangan ditelan mentah-mentah karena kita manusia yang berakal jadi silakan gunakan  interpretasi Anda sendiri semaksimal mungkin. Selanjutnya saya mohon maaf terlebih dahulu apabila kata-kata yang saya gunakan kurang tepat di mana ini adalah karya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan tanpa  bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu.

    Sungguh senyap, benar-benar sunyi... rasanya tak ada serpihan dentuman di sekeliling ragaku meski setengah isi kepala menolak waras dan tunduk pada nalar ketimbang ego. Malam demi malam penuh akan bait-bait renungan, entah sudah hari ke-berapa dan entah ujung yang mana dalam perjalanan menyudahi lara. Terlihat semakin samar diri ini menghadapi fana-nya dunia, pun gemerlap rincik manusia beserta ribuan mulut yang bersumpah serapah tak berdarah. Bukan karena sebuah kejahatan yang direkayasa melainkan karena kemalangan yang terus melanda. 

    Sejengkal jariku menapak landainya tanah, mencoba mengukur muara akan batas realita namun sungguh kembali kutemui refleksi yang menggoyahkan diri. Kita begitu nista nyatanya... terlahir dari air keruh berupa mani yang dibuahi indukan sel telur, di mana kian hari kita berpaling dan membangkang akan fakta. kelak percikan air yang menjadi beragam manusia membuat berbagai perbedaan kian tampak jelas, ada yang berbakti, ada yang mengingkari, ada yang merenungi bahkan ada yang daya rusaknya menghancurkan suatu negeri.

    Yang dijanjikan hanya pulang dan sepetak liang tak lebih dari 2 meter untuk tempat bermukim bersama jasad yang lain. Sebelum itu maka jalanilah hidup, hidupilah hidup sebelum ia terenggut darimu. Nikmati sepantasnya dan jangan menuntut yang tak ada, mungkin saja takaran yang tuhan berikan kepadamu sudah sesuai dengan liarnya nafsu yang menggerogoti jiwamu, maka syukurilah sebelum sepenuhnya membusuk dan tak akan lagi berarti.

    Mengapa kita eksis? kemana arahnya? siapa dalangnya? di mana penjahatnya? kapan pahlawan akan datang? dan beribu-ribu pertanyaan dan bualan lain yang tak kunjung mereda. Cobalah memahami sebuah kodrat bahwasannya manusia adalah sesuatu yang digariskan, telah diberi petunjuk dan memilih tunduk kepada kebajikan daripada menengadah kepada rasa angkuh dan ketidakpercayaan. Betapa bodohnya bahkan beberapa kitab yang turun dan wahyu tak bisa menyadarkan mereka. Mungkinkah lupa? itu mungkin saja dan masuk akal rupanya. Toh.. lupa juga tak luput dari kodrat, tapi lupa bahwa iblis sebagai mahluk superior saja runtuh karena tak mau bersujud kepada kita, sedangkan dewasa ini iblis bahkan tak seburuk yang dikira dibandingkan untuk ukuran seekor kera hasil evolusi buah gagasan darwin.

    Menyukai seni, gagasan tinggi, ilmu hingga ke negeri cina, kiasan puitis ataupun cinta yang membara dan bergelora, itulah kita, seolah bisa melahap semuanya karena akses yang begitu terbuka. Mungkin tak cukup satu dua judul buku sehingga perpustakaan perlu dibuat untuk menuangkan kreativitas mereka, tak cukup satu dua film sehingga seluruh series digerayangi tanpa sisa untuk mengetahui akhir dari sebuah cerita, tidakkah terpikirkan bahwa mungkin saja cerita yang menggantung akan lebih banyak membunyikan harmoni imajinasi dibandingkan disuapi bagai seorang bayi. 

    Namun barangkali di situlah letak paradoks paling besar dari keberadaan kita: semakin jauh manusia mengenal dunia, semakin luas pula keinginannya untuk memiliki dunia. Kita belajar memahami langit, mengukur waktu, menafsirkan semesta, lalu perlahan mencoba menundukkannya agar sesuai dengan kehendak sendiri. Pengetahuan melahirkan kemudahan, kemudahan melahirkan keinginan, dan keinginan yang tak pernah selesai pada akhirnya menjelma menjadi perlombaan. Kita tak lagi sekadar ingin hidup, melainkan ingin hidup lebih tinggi dari yang lain; bukan hanya ingin memiliki, tetapi ingin memiliki lebih banyak. Dari sanalah barangkali sebagian luka peradaban bermula bukan karena manusia tak tahu mana yang baik dan buruk, melainkan karena ia terlalu sering menginginkan sesuatu melebihi batas yang seharusnya.

    Belum lagi rasa adil dan sejahtera sebagai suatu komodtas yang kini mesti dibayar mahal, ada ironi ketika melihat pak tua yang berangkat pagi pulang pagi hanya untuk menyisakan gemrincing koin-koin sebagai pundi dalam menafkahi anak istrinya sedang ada pria berdasi yang sibuk bermimpi di siang bolong tentang tunjangan dan petak tanah yang mesti diperlebar. Lantas apakah benar ada dunia lain sehabis kehancuran peradaban dan moral ini? mestinya ini jawaban kenapa akhirat ada sebagai hari pembalasan yang setimpal kepada seonggok daging tanpa pandang bulu.

    Maka mulailah dari diri sebelum membenahi, hiduplah untuk menghidupi, nikmati dan syukuri setiap potongan yang diberikan, tak perlu menuntut sebuah imaji sehingga biarkan itu mengalir seiring dengan berkembangnya diri, hidup sewajarnya manusia, menua sewaktunya, matilah kamu mati karena sungguh semua itu niscaya. Bila bukan dari benakmu sendiri sadarilah bahwa ia telah jauh digariskan sebelum rona pipi merahmu terlahir di dunia.

Berikut sepenggal bait;

Sisa-Sisa yang Bernama Manusia

Di antara sunyi yang mengubur suara,
Kita berjalan menafsir sisa dunia,
Menggenggam harapan yang rapuh di dada,
Sementara waktu mengikis segala makna.

Kita menatap langit, mencari siapa,
Menanyakan Tuhan di balik semesta,
Namun kesombongan tumbuh menjadi mahkota,
Dan manusia lupa dirinya fana.

Kita mencipta cinta, seni, dan aksara,
Membangun peradaban dari debu dan asa,
Namun tangan yang sama menanam petaka,
Lalu bertanya mengapa dunia terluka.

Jika kelak tirai ditutup tanpa jeda,
Dan jasad kembali menjadi tanah semata,
Biarlah hidup pernah dijalani sewajarnya,
Sebab pada akhirnya kita semua pulang juga.

“Sebab pada akhirnya, kiamat bukan tentang dunia yang berakhir, melainkan manusia yang lebih dahulu kehilangan alasan untuk menjaganya.”

~Dwiki, A

© 2026 Dwiki Ariyadi Wisnu Suputra. All rights reserved. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATIRE 1.8 "BAU MENYENGAT YANG ENGGAN REDA."

Surakarta, 1 Januari 2026

" DUNIA DALAM 64 PETAK "

Surakarta, 29 Maret 2026

SATIRE 1.7 "MENABUR GARAM DIATAS LUKA"

Surakarta 12 November 2025.